Monev Program Ketahanan Pangan BUMKal Kapanewon Purwosari Tahun 2026: Menakar Kinerja, Mengidentifikasi Tantangan, dan Menyusun Langkah Perbaikan

Pendahuluan

Program Ketahanan Pangan yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) merupakan salah satu strategi pemerintah dalam memperkuat perekonomian masyarakat desa melalui sektor peternakan. Pada Tahun 2026, lima BUMKal di wilayah Kapanewon Purwosari memperoleh penyertaan modal ketahanan pangan dengan fokus usaha penggemukan sapi, penggemukan kambing, serta breeding sapi.

Monitoring dan Evaluasi (Monev) dilakukan untuk mengukur tingkat penyerapan modal, perkembangan fisik usaha, manfaat yang diterima masyarakat, serta mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul selama pelaksanaan program. Hasil monev menunjukkan bahwa secara umum program telah berjalan dengan baik, namun masih terdapat sejumlah permasalahan yang perlu mendapat perhatian agar tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai secara optimal.


Gambaran Umum Pelaksanaan Program

Dari lima BUMKal yang menjadi objek monev, sebagian besar telah menunjukkan tingkat penyerapan modal yang tinggi. BUMKal Purwo Manunggal (Giripurwo) dan Tirtosari (Giritirto) mencatat tingkat serapan modal di atas 99%, sedangkan Kridatama (Giricahyo) mencapai 94,42%. Sementara itu, BUMKal Asih Makmur (Giriasih) mencapai 76,37% dan BUMKal Jati Mandiri (Girijati) baru mencapai 23,76%.

Dari sisi progres fisik, sebagian besar usaha telah mencapai 80–95%. Namun demikian, mayoritas BUMKal masih berada pada tahap pengembangan usaha sehingga omzet dan laba belum sepenuhnya dapat direalisasikan.


Hasil Analisis Monev

1. BUMKal Jati Mandiri Kalurahan Girijati

Kondisi Aktual

Usaha yang dijalankan berupa penggemukan sapi sistem gaduh dengan tingkat serapan modal sebesar 23,76% dan progres fisik sekitar 25%. Hingga saat monev dilakukan, belum terdapat omzet maupun laba yang dihasilkan.

Permasalahan

    • Keterbatasan SDM pengelola.
    • Unit usaha lama (ATK) mengalami stagnasi.
    • Populasi sapi belum memenuhi target yang direncanakan.

Analisis Penyebab

Permasalahan utama disebabkan oleh lambatnya akselerasi pengembangan usaha baru akibat keterbatasan kapasitas manajemen dan teknis pengelola. Selain itu, proses pengadaan ternak dan perluasan kemitraan berjalan belum optimal sehingga penyerapan modal masih rendah.

Rekomendasi

    • Mempercepat pengadaan ternak sesuai target usaha.
    • Meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan manajemen usaha dan peternakan.
    • Menyusun SOP operasional usaha peternakan.
    • Melakukan evaluasi terhadap unit usaha lama yang tidak produktif.

RKTL (Rencana Kerja Tindak Lanjut)

KegiatanWaktuPenanggung Jawab
Penambahan populasi sapiTriwulan III 2026BUMKal
Penyusunan SOP usahaTriwulan III 2026Pengurus BUMKal
Pelatihan pengelolaTriwulan III–IV 2026Kalurahan dan Pendamping
Evaluasi unit usaha lamaTriwulan IV 2026Pengurus BUMKal

2. BUMKal Asih Makmur Kalurahan Giriasih

Kondisi Aktual

Usaha penggemukan kambing sistem kandang terpusat telah mencapai progres fisik sekitar 80% dengan tingkat serapan modal 76,37%. Fasilitas kandang, gudang pakan, listrik, dan air telah tersedia.

Permasalahan

    • Belum memasuki siklus penjualan pertama.
    • Tingginya biaya pakan operasional.

Analisis Penyebab

Karena usaha masih berada pada fase awal produksi, hasil penjualan belum dapat direalisasikan. Selain itu, biaya pakan yang cukup tinggi berpotensi menekan margin keuntungan apabila tidak dikelola secara efisien.

Rekomendasi

    • Menyusun strategi pemasaran sebelum masa panen.
    • Mengembangkan sumber pakan alternatif berbasis potensi lokal.
    • Membuat proyeksi keuangan dan analisis titik impas usaha.

RKTL

KegiatanWaktuPenanggung Jawab
Persiapan panen kambingTriwulan III 2026BUMKal
Penguatan pemasaranTriwulan III 2026Pengurus BUMKal
Pengembangan pakan alternatifTriwulan III–IV 2026Kelompok Pengelola
Evaluasi biaya operasionalTriwulan IV 2026BUMKal

3. BUMKal Kridatama Kalurahan Giricahyo

Kondisi Aktual

Usaha penggemukan sapi sistem gaduh menunjukkan perkembangan baik dengan serapan modal mencapai 94,42% dan progres fisik sekitar 90%. Tercatat surplus berjalan sebesar Rp5.349.483.

Permasalahan

    • Adaptasi sapi dari luar daerah.
    • Ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
    • Kualitas kandang dan pakan belum merata.

Analisis Penyebab

Tingginya ketergantungan pada pasokan sapi dari luar daerah menyebabkan risiko adaptasi ternak meningkat. Selain itu, standar pemeliharaan antar mitra penggaduh belum seragam sehingga performa ternak tidak optimal.

Rekomendasi

    • Menetapkan standar pemeliharaan ternak bagi seluruh mitra.
    • Memperkuat pengawasan kesehatan hewan.
    • Meningkatkan kualitas pakan dan sanitasi kandang.
    • Melakukan evaluasi pemasok ternak.

RKTL

KegiatanWaktuPenanggung Jawab
Penjualan ternak periode pertamaTriwulan III 2026BUMKal
Evaluasi pengadaan sapiTriwulan III 2026Pengurus
Pendampingan kesehatan ternakBerkelanjutanPoskeswan dan BUMKal
Standarisasi kandang dan pakanTriwulan IV 2026Mitra Penggaduh

4. BUMKal Purwo Manunggal Kalurahan Giripurwo

Kondisi Aktual

Merupakan BUMKal dengan tingkat serapan modal tertinggi (99,61%) dan progres fisik mencapai 95%. Usaha melibatkan sekitar 30 mitra penggaduh sapi dan kambing.

Permasalahan

    • Terdapat satu ekor sapi mati.
    • Sebagian sapi mengalami kondisi kurus.
    • Harga kambing mengalami penurunan.

Analisis Penyebab

Kematian ternak dan penurunan performa fisik sapi menunjukkan masih adanya risiko kesehatan dan kualitas pakan. Sementara itu, fluktuasi harga kambing dipengaruhi oleh kondisi pasar yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan pengelola.

Rekomendasi

    • Meningkatkan monitoring kesehatan ternak.
    • Menyusun strategi mitigasi risiko kematian ternak.
    • Memperluas jaringan pemasaran untuk mengurangi dampak fluktuasi harga.
    • Menambah diversifikasi usaha peternakan.

RKTL

KegiatanWaktuPenanggung Jawab
Pengadaan ternak tahap berikutnyaTriwulan III 2026BUMKal
Perluasan pasar ternakTriwulan III–IV 2026Pengurus
Monitoring kesehatan berkalaBerkelanjutanMitra dan Poskeswan
Evaluasi risiko usahaTriwulan IV 2026Pengurus BUMKal

5. BUMKal Tirtosari Kalurahan Giritirto

Kondisi Aktual

Usaha breeding sapi telah mencapai progres fisik sekitar 95% dengan tingkat serapan modal 99,35%.

Permasalahan

    • Beberapa sapi belum bunting meskipun telah dilakukan inseminasi buatan (IB) berulang.
    • Kebersihan kandang masih kurang optimal.

Analisis Penyebab

Keberhasilan reproduksi sapi dipengaruhi oleh kualitas indukan, manajemen pakan, kesehatan reproduksi, serta ketepatan waktu pelaksanaan IB. Kondisi sanitasi kandang yang kurang baik juga dapat memengaruhi kesehatan ternak.

Rekomendasi

    • Meningkatkan pendampingan reproduksi ternak.
    • Memperketat standar kebersihan kandang.
    • Melakukan evaluasi keberhasilan IB secara berkala.
    • Menyusun pencatatan reproduksi ternak yang lebih sistematis.

RKTL

KegiatanWaktuPenanggung Jawab
Pembinaan intensif mitraTriwulan III 2026BUMKal
Evaluasi keberhasilan IBTriwulan III–IV 2026Petugas IB
Peningkatan sanitasi kandangBerkelanjutanMitra Penggaduh
Monitoring reproduksi ternakBerkelanjutanBUMKal dan Poskeswan

Kesimpulan

Hasil Monitoring dan Evaluasi Program Ketahanan Pangan BUMKal di Kapanewon Purwosari menunjukkan bahwa secara umum pelaksanaan program berjalan cukup baik dengan rata-rata progres fisik mencapai lebih dari 80% dan tingkat serapan modal yang relatif tinggi pada sebagian besar BUMKal. Program juga telah memberikan manfaat kepada masyarakat melalui pola kemitraan penggaduhan ternak.

Meski demikian, masih ditemukan beberapa tantangan seperti keterbatasan SDM, tingginya biaya pakan, risiko penyakit ternak, rendahnya produktivitas reproduksi sapi, serta belum optimalnya pemasaran hasil usaha. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas pengelola, peningkatan pendampingan teknis, standarisasi manajemen usaha peternakan, serta pengembangan strategi pemasaran agar keberlanjutan dan keberhasilan program ketahanan pangan dapat tercapai secara optimal.

Dengan pelaksanaan RKTL yang konsisten, diharapkan seluruh BUMKal mampu meningkatkan produktivitas usaha, memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta memperkuat ketahanan pangan di tingkat kalurahan.

Terim
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini